Home / kliping / Jakarta Hanya Punya 14 Gedung Ramah Lingkungan

Jakarta Hanya Punya 14 Gedung Ramah Lingkungan

Pemanasan global yang semakin bertambah parah juga disertai dengan perubahan iklim membuat kebiasaan manusia harus berubah. Gaya hidup yang ramah lingkungan pun berbondong-bondong mulai diterapkan di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia.
Bukan cuma berskala individu, gaya hidup ramah lingkungan juga mulai dirambah oleh banyak korporasi. Terbukti dengan mulai bermunculannya gedung-gedung ramah lingkungan. Mulai dari segi desain sampai fasilitasnya.  Menurut Chair Person Green Building Council Indonesia (GBCI) Naning Adiwoso, di Jakarta sendiri setidaknya ada 14 gedung yang sudah menerapkan konsep hijau. Ada gedung-gedung lama, ada juga gedung baru.
Jika dilihat dari segi jumlah memang masih terbilang sangat sedikit. Apalagi jumlah bangunan dan gedung tinggi di Jakarta sendiri seolah tak terhitung lagi.  Tapi, bagi Naning jumlah itu sudah menggambarkan konsep ramah lingkungan mulai dilirik banyak orang.
“Kalau dibilang terlambat kita memang terlambat. Apalagi dibandingkan dengan Amerika. Tapi sejak tahun 2010 responsnya cukup,” kata Naning dalam acara diskusi Green Building dan Warisan Arsitektur di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (22/10).
Beberapa bangunan yang sudah mendapatkan sertifikasi ramah lingkungan, Greenship, dari GBCI antara lain Sequis Center, Menara BCA, Gedung Sampoerna Strategic, Kementerian PU, Kantor L’Oreal Indonesia, dan Mal Pacific Place.
Naning menyebutkan ada beberapa syarat yang harus dimiliki sebuah bangunan untuk diakui dan mendapat sertifikasi hijau dari GBCI, yang paling utama adalah penghematan energi dan air.
Saat ini, kata Naning, yang terjadi justru banyak bangunan mengeksploitasi sumber air yang ada. Pasalnya banyak bangunan seperti gedung atau rumah yang masih menggunakan air tanah. Parahnya, penggunaan air itu seenaknya saja dan tidak diganti lagi.
“Dalam green building harus ada efisiensi penggunaan air dan konservasi. Kalau tidak bangunan itu tidak akan bisa sustain. Caranya bisa mengganti dengan peralatan hemat air,” ujar Naning.

Daur Ulang Air Tanah, Penghematan Energi dan Ruang Terbuka Hijau
Dia mencontohkan untuk gedung-gedung bisa menggunakan keran yang memakai sensor tangan sehingga pemakaian air bisa sesuai kebutuhan. Atau bisa dengan menggunakan low flow toilet yang tidak terlalu banyak menggunakan air. Semua barang-barang itu sudah tersedia di pasaran.  Naning juga menganjurkan pendaurulangan air untuk gedung-gedung.
“Kalau ambil air dari tanah harus daur ulang kembali. Biar airnya bisa dipakai lagi untuk kebutuhan lain seperti menyiram tanaman. Bisa juga menampung air hujan, bikin sumur resapan. Semua airnya disimpan untuk kemudian hari,” kata dia.
Gedung-gedung bertingkat yang biasanya menghabiskan banyak energi pun, bisa mulai mengurangi pemakaian energinya. Misalnya saja dari pemakaian lampu.
Di pasaran, kata Naning, sudah banyak dijual lampu LED yang lebih ramah lingkungan. Lampu LED ramah lingkungan dinilai lebih baik karena bisa mengurangi pemakaian energi tapi juga tidak mengeluarkan efek panas.
Cara lain untuk menerapkan konsep green building juga bisa dengan membuat ruang terbuka hijau yang berisi tanaman-tanaman khusus. Berdasarkan Peraturan Gubernur DKI Jakarta, setiap gedung harus memiliki 30 persen ruang terbuka hijau. Seharusnya semua gedung sudah memiliki modal dasar untuk menjadi green building.
“Tapi sayangnya tidak semuanya menerapkan 30 persen ruang terbuka hijau,” kata Naning.
Untuk memaksimalkan ruang terbuka hijau, pengelola gedung bisa memilih tumbuhan yang tidak membutuhkan banyak air. Selain itu, bisa juga memilih tanaman yang bisa memproduksi oksigen lebih banyak dan mengurangi polusi.  Penggunaan material dari bahan daur ulang juga penting untuk menunjang green building. Gunakan bahan-bahan yang bisa diperbarui untuk dekorasi atau bagian dari bangunan.
“Ambil material yang ramah lingkungan, seperti AC yang tidak merusak ozon. Cat dan pembersih gang tidak mengandung toksin juga penting untuk menjaga kesehatan,” ujar Naning.
Yang terakhir, adalah manajemen lingkungan bangunan.  Bangunan yang ramah lingkungan, kata Naning, memiliki pengelolaan sampah yang baik. Hal ini bisa dilihat dari adanya pemilahan sampah untuk sampah organik dan anorganik. Limbah berbahaya seperti limbah baterai juga perlu dipisahkan. Hal tersebut dilakukan agar sampah-sampah yang bisa didaur ulang bisa terpisah dengan mudah sehingga pengolahannya pun bisa lebih mudah.

Baca juga

Dari 69 Gedung yang Kena Razia Air di Sudirman-Thamrin, Baru 4 yang Sudah Penuhi Ketentuan

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Pertanahan Pemprov DKI Jakarta Benny …